Aplikasi Filtering dalam Penginderaan Jauh



A. Pendahuluan
Filtering merupakan suatu metode untuk menonjolkan suatu kenampakan pada citra sehingga lebih mudah dibedakan dengan kenampakan lain. Swain dan Davis (1978) memberikan batasan filter sebagai mekanisme yang dapat mengubah sinyal-sinyal optis, elektronis maupun digital, sesuai dengan kriteria tertentu. Lebih lanjut, keduanya menyatakan bahwa pemfilteran adalah suatu cara untuk ekstraksi bagian data tertentu dari suatu himpunan data, dengan menghilangkan bagian-bagian data yang tidak diinginkan. Fungsi dari filter pada pemrosesan citra adalah untuk menyeleksi suatu nilai piksel sehingga memiliki variasi nilai yang mampu menggambarkan kenampakan dengan lebih jelas dari citra asli. Untuk dapat menampilkan citra yang lebih jelas daripada citra aslinya maka diperlukan suatu penonjolan dan penyamaran dari nilai piksel. Dengan dilakukan operasi filtering diharapkan interpretasi visual dapat dilakukan dengan lebih mudah karena kenampakan menjadi lebih jelas.

Variasi nilai piksel pada sebuah citra diubah dengan menggunakan algoritma tertentu. Dengan menggunakan moving window/kernel dengan ukuran 3x3, 5x5 , 7x7 dan seterusnya. Setiap kernel tersebut juga memiliki bobot tersendiri yang tentunya juga mempengaruhi perubahan nilai piksel pada citra. Dengan bobot dan dari nilai piksel, dilakukan proses perubahan nilai piksel dengan menggeser kernel sampai semua bagian citra dilalui. Sehingga nilai piksel yang diubah sangat dipengaruhi oleh nilai piksel di sekitarnya.

Fisiografi atau kenampakan relief permukaan suatu daerah pada suatu citra penginderaan jauh seringkali tidak tergambarkan dengan jelas. Gambar yang ditangkap oleh sensor tidak selalu tepat dalam menggambarkan aspek fisiografis.  Hal tersebut akibat dari keterbatasan sensor maupun akibat gangguan dari luar, misalnya cahaya matahari. Intensitas cahaya yang berbeda ketika mengenai suatu daerah akan memberikan efek yang berbeda pula pada kenampakan yang direkam. Sehingga citra hasil perekaman tidak selalu menunjukkan efek fisiografi secara jelas. Dengan ditampilkannya aspek fisiografi pada citra, sehingga citra dapat dianalisis secara lebih mendalam mengenai bentuklahan sehingga dapat diketahui pula aspek penggunaan lahannya.

Berbagai metode dalam filtering dapat digunakan untuk menonjolkan aspek fisiografi pada citra. Melalui teknik pemfilteran, variasi relief yang kurang jelas pada citra asli dapat ditonjolkan, sehingga topografi suatu bentuklahan tertentu dapat dibedakan dari yang lain secara lebih baik (Projo Danoedoro, 1996). Aplikasi filtering dalam menonjolkan aspek fisiografi dapat dilakukan dengan berbagai metode, misalnya dengan filter high pass,  laplace, directional, shadow filter dan sebagainya. Pada tulisan ini hanya akan dilakukan pembandingan antara metode high pass, laplace dan directional.

B. Metode
Untuk melakukan pemfilteran spatial ini, digunakan softwere ENVI dan Arc-Gis. Citra yang digunakan adalah citra Landsat daerah Merapi yang telah di resize agar lebih mudah dalam mengamati kenampakan. Setelah citra telah difilter dengan ketiga metode tersebut kemudian setiap citra ditampalkan dengan kenampakan sungai dan garis kontur pada Arc-Gis, sehingga kesan fisiografi melalui pola aliran dan ketinggian dapat ditangkap dengan mudah.

Citra dilakukan filtering dengan menggunakan filter high pass, dan laplace, directional menghasilkan citra dengan kenampakan fisiografi dengan lebih jelas. Aspek warna/kombinasi warna sudah tidak lagi diperhatikan, karena penggunaan filter tersebut memang untuk menampilkan kesan fisiografi permukaan bumi dengan lebih jelas. Untuk menampilkan aspek tersebut akan lebih jelas jika digunakan gradasi/grayscale. 

Metode filtering yang dilakukan mengguunakan kernel ukuran 3x3 untuk kesemua metode. Setiap kernel tersebut memiliki bobot masing-masing yang antar metode berbeda bobotnya. Untuk metode directional input yang digunakan adalah 45. Dengan nilai input yang berbeda nantinya juga dihasilkan bobot yang berbeda untuk setiap kernel.
C. Hasil dan Pembahasan
Pada band 4 untuk setiap metode filtering terlihat kesan fisiografi sangat terlihat jelas jika dibandingkan dengan band yang lainnya. Namun yang ditampilkan pada band 4 tersebut merupakan fisiografi vegetasi. Hal tersebut karena vegetasi memiliki pantulan yang tinggi pada band 4. Untuk menonjolkan kesan fisiografi permukaan bumi dengan meminimalisisr pengaruh dari landcover yang seringkali berupa vegetasi, maka digunakan band yang peka terhadap objek tanah. Band yang dapat digunakan adalah band inframerah tengah maupun inframerah jauh. Disini akan digunakan band 5 untuk ditampalkan dengan sungai dan garis kontur. 

Setiap filter menunjukkan kenampakan fisiografi dengan lebih jelas pada citra. Perbedaan ketinggian dengan variasi yang besar mampu diperlihatkan sehingga aspek topografi pada citra hasil filter sangat jelas dibanding pada citra asli. Akan tetapi jika dibandingkan antara ketiganya, dapat dilihat hasil filtering menggunakan metode directional mampu menyajikan kesan fisiografi paling jelas. Hal tersebut karena pada tipe filter directional nilai kecerahan yang dihitung untuk arah sumbu x dan sumbu y.  Aspek bayangan yang besar akan menampilkan kesan 3D yang  lebih jelas pula. Dengan sudut 45 derajat yang digunakan dalam algoritma tersebut, kesan fisiografis yang ditampilkanpun dapat maksimal. Secara visual kesan timbul tersebut tampak sangat jelas pada hasil filter directional.

Pada hasil filter laplacian aspek fisiografis tampak terlihat lebih halus dibanding filter highpass dan laplacian. Terlihat kenampakan rekahan pada daerah disekitar gunung merapi dan merbabu.  Jika pada filter highpass kenampakan dengan pantulan yang tinggi akan ditampilkan dengan rona yang lebih terang. Hal tersebut terlihat pada objek berupa material pasir dari merapi.  Aspek yang terlihat dari hasil filtering dengan highpass dan laplacian juga memperlihatkan aspek perbedaan ketinggian atapun kedalaman.

Setelah dilakukan penampalan dengan kenampakan sungai dan garis kontur secara umum semua citra hasil filter mampu memberikan kesan ketinggian lebih jelas. Kenampakan fisiografi yang paling terlihat hasil pertampalan dengan sungai dan garis kontur adalah pada hasil filter directional, sementara untuk highpass dan laplacian hampir menunjukkan kesan yang sama.


D. Kesimpulan
Aplikasi dari filtering ini sangat penting digunakan untuk menonjolkan kenampakan topografi suatu daerah, sehingga aspek geologi maupun geomorfologi dapat diketahui. Bentuk dan jenis batuan juga dapat diindera ketika diketahui bentuklahan suatu daerah. Suatu bentuklahan dapat diketahui jika informasi berupa rekahan, igir ataupun suatu sub satuan lahan yang lain mampu ditonjolkan. Selain itu dengan pendekatan geologi maupun geomorfologi dapat diketahui aspek lain misalnya pola spasial objek.

E. Acuan
Danoedoro, Projo. 1996. Pengolahan Citra Digital. Fakultas Geografi. Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta


(untuk file lengkap dapat diminta ke penulis)






FORMAT PENYIMPANAN CITRA DIGITAL


Citra digital adalah citra yang diperoleh, disimpan dan dianalisis ddengan basis logika biner. Perolehan citra ini dapat dihasilkan dari pelarikan, yaitu melakukan perekaman dengan sensor berupa scanner. Citra digital dapat merupakan citra yang dihasilkan/dibuat dengan perangkat lunak tertentu CAD (computer-aided design) atau citra hasil perekaman melalui sensor yang dipasang pada suatu wahana tertentu. Kemudian penyimpanan yang dilakukan dilakukan pada media magnetic (disket, flash disk, hark disk, CD, atau CCT dan ditampilkan dalam monitor menjadi sebuah gambar.

Untuk mendapatkan citra digital diperoleh dengan meniru suatu objek pada kenampakan nyata. Secara sederhana citra digital dapat diperoleh dengan penggambaran secara digital melalui perangkat lunak. Selain itu citra dapat diperoleh dari perekaman dengan bantuan scanner. Yaitu dengan menangkap informasi pancaran dan pantulan gelombang elektromagnetik secara parsial/ tak serentak. Perekaman secara parsial tersebut dilakukan dengan pelarik/scanner menangkap informasi tiap bagian dan dicatat dalam computer. Misalnya perekaman dilakukan dari kiri atas ke kanan dan kembali lagi ke kiri, kemudian memulai baris baru untuk melakukan perekaman lagi. Setiap bagian direkam tersusun oleh bagian terkecil gambar yaitu pixel (picture element). Setiap pixsel/piksel memiliki dua aspek, yaitu aspek spatial yang berhubungan dengan ukuran objek terkecil yang digambarkan dan aspek spectral yaitu nilai spectral dari tiap piksel.

Proses kerja dari scanner mirip dengan proses kerja computer, karena nantinya citra hasil penyiaman tersebut diproses juga dalam computer. Kemuampuan dari computer&sensor untuk mengubah informasi pantulan dan pancaran elektromagnetik berbeda-beda. Saat ini kebanyakan sensor bekerja dalam 8 bit. Bit merupakan satuan terkecil informasi yang menggambarkan ada tidaknya arus listrik yang masuk. Basis bilangan yang digunakan oleh computer adalah basis biner, karena computer merupakan perangkat yang bekrja dengan arus listrik. Basis biner adalah bilangan 0 yang menunjukkan mati/ tidak ada arus listrik dan bilangan 1 menunjukkan ada arus listrik yang masuk.

Pada system 8 bit, akan memiliki kemungkinan 28 atau 256 informasi pada tiap piksel. Sebuah sensor yang merekam dengan pantulan yang sangat lemah atau tidak ada cahaya yang masuk maka nilai yang muncul adalah 00000000, artinya register tidak mencatat ada arus yang masuk sehingga tampak hitam/sangat gelap.  Sebaliknya apabila sensor merekam sinyal yang sangat kuat, maka register akan teraliri arus pada semua sel dan mencatat sebagai nilai 11111111 atau 255. Nilai tersebut berarti putih/ sangat cerah.

Informasi dalam basis 8 bit akan disimpan dalam byte. Dalam 1 byte terdiri dari 8 bit. Tiap piksel akan memiliki nilai byte tersendiri. Maksudnya adalah tiap 1 piksel citra akan disimpan dalam 1 byte , sementara dalam 1 byte tersebut tiap piksel terdiri dari 8 bit. Misalkan sebuah citra dengan ukuran 1000 piksel x 1000 piksel, maka kapasitasnya adalah 1.000.000 byte.

Semakin besar ukuran citra maka akan semakin banyak piksel yang terdapat dalam citra tersebut sehingga ukuran file juga semakin besar. Penyimpanan dengan merekam tiap piksel menurut posisi baris dan kolom dinamakan penyimpanan raster. Penyimpanan ini boros tempat, karena tidak dilakukan kompresi. Namun penyimpanan tersebut mempermudah apabila akan melakukan convert ke format lain dalam perangkat lunak lain, atau akan melakukan manipulasi.

Berkembangnya system multispectral membuat penyimpanan secara efisien semakin dibutuhkan. Citra multispectral menggambarkan daerah yang sama namun memiliki variasi nilai spectral yang berbeda. System penyimpanan pada saluran multispectral tersebut dapat dilakukan dengan format BSQ,BIL dan BIP dan RLE. Pada format BSQ, BIL dan BIP tidak dilakukan kompresi, sedangkan pada format RLE dilakukan kompresi untuk piksel yang memiliki nilai yang sama. Piksel tersebut disimpan tidak dipisahkan dalam byte sendiri.

Citra digital merupakan kumpulan dari piksel-piksel. Sebuah piksel memiliki dua buah nilai, yaitu nilai spatial dan nilai spectral. Nilai spatial berkaitan dengan ukuran objek terkecil yang mampu terlihat, sedangkan nilai spectral berkaitan dengan nilai objek menurut dengan pola pantulan spektralnya. 

Untuk menampilkan sebuah citra, setiap perangkat lunak/softwere memiliki system yang berbeda-beda dalam menyimpan citra. Terdapat dua cara penyimpanan, yaitu dengan kompresi, yaitu memampatkan nilai piksel yang nilainya sama, dan non kompresi, yaitu tanpa melakukan pemampatan, artinya dalam satu piksel disimpan dalam 1 bytes. Yang termasuk cara penyimpanan/format penyimpanan non kompresi adalah BSQ (Band Sequential), BIL (Band Interleaved by Line), dan BIP (Band  Interleaved by Pixel).

Format penyimpanan BSQ adalah, cara penyimpanan yang memisahkan citra pada setiap band/salurannya. Citra digital tersebut disimpan berurutan dari baris pertama saluran pertama, kemudian baris kedua saluran kedua dan seterusnya sampai baris terakhir saluran pertama dan disimpan dalam satu file dengan header citra saluran 1. Penyimpanan dilanjutkan pada saluran kedua, pada baris pertama, kemudian pada baris kedua saluran kedua dan seterusnya sampai selesai. Jadi setiap band yang disimpan memiliki header masing-masing.

Format penyimpanan BIL adalah cara penyimpanan dengan mendasarkan pada urutan baris namun tidak memisahkan pada tiap band/saluran tetapi digabungkan menjadi satu dan memiliki hanya satu header citra. Penyimpanan dilakukan pada baris pertama saluran pertama, dilanjutkan baris pertama saluran kedua dan seterusnya setelah semua saluran pada baris pertama tersimpan maka dilanjutkan baris kedua untuk semua saluran.
Format penyimpanan BIP mendasarkan pada penyimpanan sesuai dengan urutan pikselnya. Jadi piksel pertama pada saluran pertama dilanjutkan piksel pertama pada saluran kedua dan selanjutnya. Setelah semua piksel pertama pada semua saluran sudah semua tersimpan dilanjutkan pada piksel kedua saluran pertama dan seterusnya. Pada format ini, citra juga hanya memiliki satu header.

Format penyimpanan BSQ, BIP dan BIL memiliki cara masing-masing dan tentunya memiliki kelemahan dan kelebihan. Format BSQ memiliki kapasitas paling besar dari format yang lain, karena setiap band disimpan dalam bagian tersendiri dengan header sendiri, namun data yang tersimpan tidak mudah rusak. Misalnya terdapat kerusakan salah satu nilai piksel pada salah satu band, maka band lain masih dapat terbaca dengan baik, karena disimpan dalam bagian tersendiri.

Untuk format pentimpanan BIL dan BIP hamper sama file nya ringan karena disimpan dalam satu bagian, akan tetapi apabila terdapat salah satu nilai piksel yang rusak atau tidak terbaca, maka citra akan rusak karena piksel yang rusak tadi akan dimasuki piksel selanjutnya, sehingga informasi yang tersimpan menjadi bergeser semua.


Untuk dapat ditampilkan sebagai gambar, hasil dari kode-kode tersebut harus dibaca lagi oleh computer tiap piksel citra tersebut. Kemudian citra tersebut dapat ditampilkan secara visual dalam layar monitor. System penyimpanan tersebut memiliki suatu sub-file yang disebut header citra yang berisi informasi citra. Dari informasi tersebut kode-kode tersebut dapat dirangkai kembali menjadi suatu gambar.

Setiap piksel dalam citra menggambarkan nilai pantulan dan pancaran objek di permukaan bumi. Untuk dapat mengetahui objek tersebut dalam citra diperlukan kemampuan ekstraksi informasi dengan menganalisis nilai piksel tersebut. Untuk mempermudah pengenalan memang sangat dipengaruhi juga oleh aspek spatial yang semakin baik resolusi spatial/ banyak piksel akan semakin mudah pengenalan objek tersebut.

Dalam pemrosesan citra dapat dilakukan pengolahan suatu citra untuk mempermudah dalam analisis karena banyak sekali gangguan yang diterima sensor dalam perekaman. Pengolahan citra tak lagi hanya berorientasi pada pengembangan fungsi-fungsi aljabar matematis, melainkan juga mencakup pengembangan fungsi-fungsi logis untuk pengolahan data nominal dan label. (Richards,1986)


Sumber : 
Danoedoro, Projo. 1996. Pengolahan Citra Digital. Fakultas Geografi. Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta
Habib. 2011. Bahan Kuliah Pemorsesan Citra Digital. Fakultas Geografi. Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta
Habib. 2011. Laporan Praktikum Pemrosesan Citra Digital.Fakultas Geografi. Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta

Pelatihan Penelitian Aspek Sosial dan Fisik di Pantai Bugel

Sebagai seorang geograf, kegiatan penelitian tidak akan pernah bisa untuk ditinggalkan. Kegiatan penelitian ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi masalah dan memecahkannya. Pengenalan kegiatan penelitian haruslah dilakukan sedini mungkin, maka dari itu, untuk mengenalkan kegiatan penelitian mahasiswa angkatan baru yaitu angkatan 2010, GSC melakukan kegiatan pelatihan penelitian di Pantai Bugel pada hari sabtu tanggal 26 Februari 2011. Pantai ini terletak di Kabupaten Kulon Progo dan relatif sepi pengunjung.

Kelompok penelitian ini terbagi dalam dua tim, yaitu tim yang melakukan penelitian di bidang sosial terlebih dahulu yang kemudian dilanjutkan dengan penelitian di bidang fisik dan tim yang melakukan kegiatan penelitian di bidang fisik terlebih dahulu yang kemudian dilanjutkan dengan penelitian di bidang sosial. Pembagian kelompok ini bertujuan agar semua mahasiswa dapat berkesempatan menggunakan alat-alat praktek yang terbatas. Dalam melakukan kegiatan penelitian di bidang sosial ini, mahasiswa harus berhati-hati dalam memberikan pertanyaan kepada warga masyarakat karena warga masyarakat di sekitar Pantai Bugel ini menjadi lebih sensitif jika menyangkut tentang pertambangan pasir besi yang dicanangkan oleh pemerintah daerah setempat. Untuk itu, dalam pelatihan kali ini, mahasiswa harus pintar-pintar memberikan pertanyaan kepada masyarakat sekitar. Kelompok yang kedua, meneliti tentang aspek fisik yaitu mengenai kemiringan lereng, membuat garis kontur dengan alat-alat praktikum, menghitung ketinggian muka air laut.

Setelah masing-masing kelompok menyelesaikan penelitian di semua bidang, mahasiswa diwajibkan untuk membuat hasil dari penelitiannya tersebut dan kemudian dipresentasikan. Waktu presentasi hanya disediakan sekitar 15 menit, untuk itu mahasiswa diharapkan dapat memberikan informasi yang langsung menuju ke pokok permasalahan dan penyelesaiannya. Setelah semua kelompok mempesentasikan hasil penelitiannya, maka kegiatan selanjutnya adalah pelantikan anggota baru GSC tahun 2011-2012. Acara pelantikan ini dipimpin oleh Presiden GSC Lintang, yang diikuti oleh pengucapan janji anggota GSC.

Kegiatan penelitian ini merupakan serangkaian agenda kegiatan GSC pada satu tahun ke depan yang selanjutknya akan dilakukan kegiatan-kegiatan lain sesuai dengan minat divisi masing-masing mahasiswa. Melalui kegiatan pelatihan penelitian ini diharapkan sebagai seorang geograf, mahasiswa dapat lebih peka terhadap permasalahan di sekitar dan mempunyai sosuli untuk pemecahan masalah tersebut.

Pelajar DIY Kritisi Kondisi Lingkungan lewat GESTURE

BULAKSUMUR (KU) – Untuk membangun semangat pelajar Yogyakarta akan kepeduliannya pada lingkungan sekitar, Geography Study Club (GSC) Fakultas Geografi UGM telah menyelenggarakan kegiatan GESTURE (Geography Student Creativity Week). Dengan mengambil tema "Dinamika Sosio-Ekologi Masyarakat Kota Pelajar menurut Perspektif Intelektual Muda", GESTURE kali ini meliputi Lomba Debat Berbahasa Inggris, Lomba Pidato Berbahasa Inggris, dan Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI). 



Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Fakultas Geografi, Dr. Lutfi Muta’ali, S.Si., M.T., mengatakan dalam perlombaan yang diadakan Minggu (14/11) ini diikuti oleh siswa-siswi SMA negeri dan swasta di Provinsi DI Yogyakarta. Hal tersebut menunjukkan besarnya perhatian para pelajar di provinsi ini terhadap kondisi lingkungannya. "Mereka dapat dengan lugas memaparkan ide dan pemikiran mereka kepada publik dengan baik. Potensi ini yang seharusnya dapat terus dibina dan dikembangkan supaya nantinya ide-ide cemerlang mereka tidak hanya berhenti di GESTURE, namun juga dapat diaplikasikan di masyarakat sebagai bentuk kontribusi mereka untuk lingkungannya," kata Lutfi Muta’ali dalam rilisnya yang dikirim kepada wartawan, Selasa (16/11). 

Menurut Lutfi, pelajar sebagai kaum intelektual muda dituntut untuk lebih peka dan peduli terhadap kondisi serta perubahan lingkungan sekitarnya. Segala jenis informasi yang masuk dalam tatanan hidup masyarakat dan teknologi baru yang terus bermunculan tentu akan mempengaruhi interaksi masyarakat dengan lingkungan, baik dari segi ekologi maupun fenomena sosial budaya yang ada. "Melalui kemampuan intelektualnya, pelajar dianggap mampu mengkritisi perubahan ini dan menyikapinya dengan bijaksana. Pada masa seperti sekarang ini, tentunya kontribusi pelajar sangat diharapkan dalam mengkritisi kondisi lingkungannya serta mengubahnya ke arah yang lebih baik," tuturnya. 

Hasil Lomba GESTURE kategori Debat Berbahasa Inggris, juara I diraih oleh tim SMA Negeri 9 Yogyakarta, disusul oleh SMA Stella Duce II Yogyakarta dan MA Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta sebagai juara II dan III. Untuk Lomba Pidato Berbahasa Inggris, tampil sebagai juara I adalah Indriani Pratiwi dari SMA Negeri 2 Yogyakarta, sedangkan juara II dan III berturut-turut ialah Vincensia Ariane Avianti dari SMA Stella Duce II Yogyakarta dan Monica Daru Murti dari SMA Stella Duce II Yogyakarta.

Untuk Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI), juara I diraih oleh MAN 3 Yogyakarta dengan judul "Pergeseran Nilai Fungsi Andong yang Ramah Lingkungan di Kota Pelajar". Berikutnya, juara II adalah SMA Negeri 8 Yogyakarta dengan judul "Kelayakan Pasir dari Sungai Gendol sebagai Bahan Bangunan", dan diikuti juara III, SMA Kolese de Britto, dengan judul "Pengaruh Tradisi Ciblon terhadap Kebersihan Sungai Code". (Humas UGM/Gusti Grehenson) 

sumber: http://ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=3206

LETUSAN MERAPI, MASA KE MASA

letusan 1920





letusan 1934

letusan 1943

letusan 1960

letusan 1961

letusan 1992

letusan 1993

letusan 2006


Status Awas Merapi ditetapkan pada Senin (25/10) pukul 06.00 WIB 
dan gunung meletus esok harinya pada pukul 17.02 WIB
 erupsi masih berlangsung sampai hari ini; Senin 8 November 2010

GESTURE----NEW!!

Setelah banyak pertimbangan, akhirnya lomba LKTI, Debate and Speech contest, yang rangkaian acaranya kami sebut dengan GESTURE (Geography Student Activities Week), kami undur pelaksanaannya menjadi 13-14 November 2010.

Sehingga, untuk sekolah-sekolah atau adik-adik yang mau ikut, masih bisa daftar. Untuk LKTI maksimal pendaftaran dan pengumpulan karya LKTI menjadi tanggal 7 November 2010. Sedangkan untuk Debate and Speech contest pendaftaran maksimal tanggal 10 November 2010. Pendaftaran langsung ke sekretariat GSC fakultas geografi UGM.

Ayo ramaikan dengan karya-karyamu!!!
Indonesia goes to research world.......

OPEN RECRUITMENT GSC 2010

Hey guys!!!


Ketika layar terkembang maka kita harus menentukan kemana haluan tertuju.

Setelah berproses beberapa bulan saatnya kamu menetukan mana organisasi yang pas buatmu. GSC sebagai unit KSF (kelompok studi fakultas) yang ada di geografi siap menerimamu untuk bergabung dalam tim kami. mari rasakan sensasi baru dalam belajar dan berdiskusi dan buka wacana keilmuan kamu selebar-lebarnya dengan bertukar pikiran dengan teman-teman.


silahkan kirim formulir aplikasi dan CV kamu
ke e-mail: gsc.ugm@gmail.com dengan subject: gscrecruitment10
sebelum 26 november 2010


GESTURE

GSC, kali ini kami datang membawa satu event untuk anak-anak SMA se-DIY.Yaitu
GESTURE -GEOGRAPHY STUDENTS CREATIVITIES WEEK-.Event ini mencakup 3 jenis perlombaan, yaitu debat danpidato bahasa inggris, serta LKTI. Kegiatan ini
mengambil tema "Dinamika Sosio Ekologi Masyarakat Kota Pelajar Menurut Perspektif Intelektual Muda”.

1. Debate dan speech contest
Syarat Umum:
a. Peserta adalah Siswa SMA, baik kelas X, XI atau XII.
b. Tiap sekolah maksimal mengirimkan 2 tim debate dan 3 orang untuk speech.
c. Satu tim debate terdiri dari tiga orang, sedangkan speech hanya satu orang.

Teknis Pelaksanaan
a. Kompetisi ini dilaksanakan selama dua hari.
b. Hari pertama dilakukan babak penyisihan yang akan menyeleksi peserta dan diambil delapan tim yang akan mengikuti babak quarter final pada hari kedua.
c. Hari kedua, dari delapan tim tersebut diseleksi untuk dapat mengikuti semi final, kemudian ke final.

2. LKTI
Persyaratan Administratif:
1)Peserta LKTI adalah kelompok siswa SMA kelas X, XI, XII yang sedang aktif mengikuti program pendidikan SMA. Mahasiswa pengusul dapat berasal dari berbagai program studi yang berbeda atau dari satu program studi yang sama, namun masih dalam satu sekolah yang sama. Keanggotaan siswa dalam kelompok
2)Seorang siswa hanya dibenarkan masuk dalam satu kelompok pengusul Karya tulis. Di samping memberi kesempatan sebanyak mungkin siswa yang terlibat.
3)Seorang guru pembimbing/pendamping hanya diperkenankan diusulkan sebagai pembimbing maksimum 1 (satu) judul/kelompok pelaksana LKTI
4)Usulan LKTI diberi sampul HIJAU TUA sesuai dengan ketentuan yang tertulis dalam butir 1
5)Menyertakan halaman pengesahan institusi pengusul sesuai format pada butir 2
6)Naskah dikumpul dalam bentuk hardcopy sebanyak 4 rangkap dan softcopy dalam bentuk CD format tulisan dengan Adobe Acrobat.
7)Usulan yang dinyatakan lulus akan diumumkan melalui surat yang dikirimkan ke setiap Sekolah. Dalam surat pemberitahuan akan diberikan keterangan/saran perbaikan yang harus dilakukan bagi setiap usulan yang dinyatakan lolos. Bagi pengusul yang usulannya memerlukan perbaikan, pengusul diwajibkan untuk memperbaiki usulan sesuai saran dan mengirimkan usulan yang telah diperbaiki paling lambat 3 (tiga) hari setelah diumumkan Usulan yang telah direvisi dijilid dengan kulit muka sebagaimana usulan awal dan diberi tulisan “REVISI” pada sudut kiri atas.

Untuk lebih jelasnya, download persyaratan LKTI disini

Pendaftaan langsung ke sekretariat UKM GSC (fakultas geografi UGM, basecamp UKM dekat kantin dan paling pojok). Pendaftaran terakhir tanggal 25 september 2010 unuk semua jenis lomba. Untuk lomba LKTI, temasuk daam pengumpulan naskah LKTI.

Masih bingung?hubungi:
085643923867 (sheily)
085643376633 (amalia)
085643474950 (charina)

untuk yang tercinta : MAHASISWA BARU FAKULTAS GEOGRAFI UGM



Welcome to our faculty.

We proud to introduce ourselves, Geography Study Club (GSC), as a study group for students in the faculty of geography.

You must be proud to be one of thousands of students from UGM. Therefore, you definitely will not waste the opportunity that will come to you in achieving success during your studies in our beloved faculty.

We are, GSC, want to offers you an opportunity to join an organization that would invite you to deepen your organization's ability both to enrich your knowledge and experience in the field of academic support.

We offer you the opportunity to gather with friends who have similar goals to achieve good academic competence without wasting a golden opportunity to organize and build an extensive network outside the faculty or university. With the various programs we offer, we hope this opportunity will not you wasted.

regards,
GSC team

KELOMPOK STUDI MAHASISWA (Resume KPK )

oleh : Lintang Galih Sukma

Triangular Role mahasiswa

Semua orang sudah mahfum, bahwa pemuda terkait erat dengan semangat, ide-ie cemerlang, keberanian, dan idealismenya. Sebuah potensi yan
g sangat luar biasa manakala variable-variable tersebut dioptimalkan sebaik mungkin, dan sebuah kekuatan yang sangat luar biasa yang mampu membangunkan macan tidur untuk kembali Berjaya atas seantero dunia. Muhammad Hatta bahkan menspesifikasikan istilah ini dengan sebutan mahasiswa. Memang benar adanya, mahasiswa merupakan tonggak lahirnya perubahan-perubahan besar di Indonesia dan dunia. Mahasiswa tidak akan mampu berlepas pada suatu institusi dengan sebutan perguruan tinggi. Di sana mereka lahir, berkembang, dan mengasah diri. Sehingga, suatu keniscayaan adanya suatu sinergisme kerja antara keduanya bagi kemajuan bangsa.


Fakta membuktikan bahwa, pemuda-pemuda Indonesia hanya segelintir saja yang mampu menyandang peran sebagai mahasiswa. Maka dengan segelintir manusia ini, terdapat harapan besar terhadap kontribusinya di dalam masyarakat. Sebagai seorang akademisi, mahasiswa dituntut kompetensinya di bidang keilmuan. Mahasiswa sebagai elemen strategis dalam masyarakat dinantikan profesionalitasnya kelak saat dipercaya mengelola jabatan tertentu di ranah publik. Dalam kacamata pergerakan mahasiswa, ketiga harapan ini analog dengan triangular peran mahasiswa: agen perubah yang memiliki kekuatan moral dan siap menjadi SDM strategis masa depan.
Kelompok Studi: aktivitas mahasiswa berbasis kepakaran
Kian bertambahnya jaman, kian majunya per
adaban berikut dengan instrument-instrumennya. Mahasiswa pun yang memiliki 3 peran tersebut, dituntut untuk terus dan selalu berjalan maju mengikuti kemajuan tersebut. Karena itu, perguruan tinggi dan begitu pula mahasiswa berorientasi pada hal-hal yang bersifat akademis. Namun, sayang, akibatnya 3 peran tersebut menjadi tersisihkan. Syukurnya, pendapat ini baru asumsi.


Menelaah lebih dalam orientasi mahasiswa keki
nian dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Berbasis pada kepakarannya
2. Memberikan pilihan solusi secara rasional den
gan dasar kompetensinya
3. Melakukan aksi nyata dengan karya intelektual dan upaya masuk dalam wilayah operasional dalam sektor kehidupan paska kampus
4. Melakukan mobilitas vertikal berdasar kompetensi dan profesionalitasnya
Sintesis keempat poin di atas dengan ketiga
peran sebelumnya melahirkan sebuah wadah yang dikenal dengan sebutan kelompok studi.
Kelompok studi sendiri memiliki berbagai macam jenis dan pola tergantung di mana mereka berada. Ada KSU (kelompok studi universitas), KSF (kelompok studi Fakultas), dan KSS (kelompok studi spesifik). Masih banyak istilah lainnya yang bisa digunakan untuk memaksudkan hal ini.



KO
MPETEN, PROFESIONAL, DAN KONTRIBUTIFKPK, demikian biasa disebut merupakan singkatan dari Kompetensi, Profesional, Kontributif. Sekilas, konsep ini begitu mudah dipahami. Kompetensi, berarti kapasitas dan kemampuan individu dalam suatu bidang tertentu. Prosefionalitas, menunjukkan kualitas pekerjaan yang excellent, mendekati sempurna, dan jauh dari cacat. Kontribusi, tak lain adalah wujud kepekaan terhadap sekeliling, baik kepada pribadi maupun lingkungan. Namun, pada hakikatnya, KPK sendiri tidak sesederhana yang dikira. Ia tidak hanya ada pada tataran pribadi, tapi juga sebagai ruh pergerakan suatu lembaga akademis yang meliputi pengelolaan sumber daya manusia, manajemen organisasi, serta peningkatan kapasitas keilmuan. Konsep ini terkait erat dengan konsep kaderisasi suatu lembaga akademis.


KPK harapannya, tidak hanya sebagai suatu logan atas idealism yang tidak terimplementasikan dan tidak pula konsep yang ternyata meruntuhkan bangunan suatu lembaga akademis. Karena itu, pemahaman yang baik akan membuatnya menjadi terang dan menerangi. KPK sejatinya, diimplementasikan pada anggotanya karena mereka merupakan asset berharga yang ditangannya suatu lembaga akademis dapat berkembang atau tidak. Konsep ini secara sederhana merupakan overlay dari bangunan-bangunan kompetensi, Profesional, dan kontributif.

Dari gambar di atas, ketiganya memiliki bentuk bangun yang berbeda, namun ketiganya dibagi atas 3 buah garis yang menjadi symbol masa perkuliahan. Bangunan pertama menandakan bahwa tahun pertama pada masa perkuliahan, adalah masa-masa penanaman kompetensi, kemudian menurun seiring bertambahnya tahun. Bangunan kedua menandakan bahwa tahun kedua merupakan saat dimana nilai-nilai profesionalitas ditanamkan. Pada bagan yang ketiga menunjukkan bahwa kontribusi anggota semakin bertambah tahunnya semakin besar.
Pertanyaan mendasar yang cukup penting adalah mengapa harus Konsep KPK, mengapa bukan yang lain? Adalah penting segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia didasarkan atas kepahaman. Begitu pula dengan pengelolaan lembaga akademis. Asupan-asupan kompetensi menjadi penting didahulukan atas yang lainnya agar tidak ada lagi pertanyaan-pertanyaan lagi ketika ia harus professional dan berkontribusi, sehingga terhindar dari kesalahan-kesalahan yang berakibat fatal. Demikian pula dengan yang lainnya.


KUALIFIKASI ANGGOTA

Kualifikasi anggota merupakan upaya lembaga untuk mengetahui tingkat keberhasilan berjalannya KPK dilembaga tersebut, dan tercapainya cita-cita lembaga akademis tersebut. Hal ini penting pula untuk menilai kelayakan dan kemampuan generasi penerus untuk mengemban amanah di lembaga. Namun sayangnya belum ada standar yang baku untuk menilai kualifikasi tersebut.
Tahapan umum yang bisa dilakukan pada tiap-tiap tingkatan anggota lembaga akademis beserta nilai-nilainya adalah sebagai berikut.
Tahap 1
a. Konsep diri
b. Urgensi keilmuan & sense penelitian
c. Career path

Tahap 2
a. Team building
b. Manajemen diri (mengatur waktu & membagi peran)
c. Kompetensi keilmuan spesifik & simulasi

Tahap 3
a. Strategic Planning
b. Manajemen Organisasi ( kepemimpinan, jaringan, kaderisasi, team building tingkat lanjut)

berdasarkan tahapan diatas dan prinsip KPK, dibuatlah standar baku untuk menentukan kualifikasi anggota lembaga.

urgensi penelitian





Dalam dunia perkuliahan, istilah penelitian itu tidak asing lagi, karena pada akhirnya nanti kita dituntut untuk mampu meneliti. Secara umum meneliti sering diartikan mengungkap suatu hal, kejadian yang nantinya dapat menemukan sebuah jawaban yang dapat berguna bagi kemaslahatan umat manusia.

Penelitian dianggap penting, karena dalam setiap apa yang kita lakukan dalam penelitian itu pasti membuahkan hasil yang benar-benar bisa digunakan, selain itu juga penelitian dalam arti penting lainnya adalah memecahkan permasalahan bangsa. Bisa dilihat berbagai contoh, banyal peneiltian mengenai makanan alternative, yang bisa menyelesaikan permasaahan pangan yang ada di Indonesia yang jelas telah di uji bagaimana rasa, gizi, harga serta kekhalalannya.

Banyak hal yang diperoleh apabila kita senang akan hal penelitian, bertambahnya pengalaman, kawan, serta mungkin menaikan prestise seseorang. Banyak ajang untuk penelitian dimana dari situ kemampuan meneliti kita diuji. Bagaimana kiat dan strategi kita agar penelitian itu menarik, dan nantinya bisa bermanfaat untuk saat ini dan diharapkan mampu secara berkala.

Permaslahan di Indonesia ialah dana untuk penelitian sangat minim, tidak masalah mengenai biaya. Yang jadi permasalahan adalah apakah hasil penelitian itu benar-benar karya tangan kita atau hanya sebagai plagiatisme, yang kini santer terdengar isu plagiatisme oleh aktor pendidikan, tidak patut dicontoh.

Sekali lagi, penelitian dianggap penting karena masalah apapun dapat diatasi dan setiap masalah pasti menimbulkan hal yang mengganggu stabilitas social, dengan adanya penelitian permasalahan umat bisa terselesaikan..

Menaggapi istilah urgensi penelitian divisi penelitian GSC dalm setiap bulannya mengadakan research course, kegiatan ini bertujuan agar mahasiswa lebih mengerti akan penelitian, dan sebagai sarana pembelajaran penellitian yang langsung didatangkan pembicara yang memang telah berpengalaman.

Pada research course yang pertama di bulan Maret, pembicara ialah Rayendra (TK’05) dalam kegiatan ini mengambil tema adalah urgensi penelitian, seperti telah dijelaskan pentingnya sebuah istilah penelitian khususnya pada civitas akademik. Dalam penjelasannya beliau menjelaskan bahwa ketika kita akan meneliti, maka carilah sebanyak-banyaknya masalah, masalah dalam arti disini adalah masalah yang bersifat ilmiah, kemudian rajin-rajinlah mengamati apa saja yang ada disekitar kita, dan amati beberapa penelitian yang sudah ada untuk dijadikan sebagai pemancing ide dalam otak kita. Sedangkan pada research course yang kedua pembicara langsung dari geografi Bayu (KPJ’04) dengan tema penentuan permasalah dalam penelitian, tidak berbeda dengan apa yang dibicarakan akan tetapi dalam hal ini lebih ditekankan pada banyaknya referensi bacaan yang diperlukan dan pengamatan langsung dilapangan. Ingin tau research course selanjutnya,, tunggu tanggall mainnya ya.. ! (desi, GEL '07)